"Lynx, cukup bermain-main. Kita harus kembali sekarang!" suara Leena terdengar tegas bercampur khawatir, lengannya memeluk erat tubuh Lala yang masih terkulai tak sadarkan diri.

Lynx menoleh perlahan, lalu mengangguk dengan tenang. "Kemarilah, robot. Sekarang kita lihat seberapa tahan tubuh logammu." ucapnya pelan, hampir seperti bisikan yang dingin, matanya menyipit penuh minat.

Lynx mengaktifkan mata langitnya, menatap Zephyron yang terbang di langit. Pandangannya menembus lapisan baja tebal, melewati kabel dan pelat pelindung, lalu berhenti pada sosok yang tak disangka dibalik rangka tersebut, manusia. Alis Lynx terangkat sedikit. Ada rasa kagum samar dalam tatapannya.

"Ternyata robot ini dikendalikan manusia di dalamnya. Teknologi yang sangat luar biasa. Persis seperti film yang ada di duniaku." Batin Lynx.

Dia mengendurkan niat untuk menghancurkan robot tersebut.

Namun sang robot, Zephyron tak memberinya waktu lama. Dengan pendorong roket di kakinya, Zephyron melesat maju, lengan kanannya terangkat membentuk tinjuan yang di arahkan ke kepala Lynx dengan kekuatan penuh yang membuat udara berdesing.

BUMP!

Suara dentuman logam menggema saat tinju Zephyron dihentikan seketika oleh telapak tangan Lynx. Satu tangan, tanpa bergeser sedikit pun, mematahkan momentum serangan penuh tenaga itu.

"Apa ini? Dia menahannya… dengan satu tangan?" Zephyron menatap tak percaya, matanya membelalak di balik helm saat ingatan akan kejadian barusan mengulang di benaknya. Itu bukan tangkisan biasa. Itu dominasi mutlak.

Di layar kaca dalam helmnya, barisan merah menyala berkedip cepat. Peringatan sistem muncul bertubi-tubi, menunjukkan kerusakan serius pada lengan kanan akibat benturan langsung.

Lynx mengangkat dagunya sedikit, sorot matanya tajam. "Menarik. Jadi kau ini sebenarnya manusia," ucapnya perlahan. Suaranya tenang, namun mengandung tekanan yang tak bisa diabaikan.

Tanpa menggerakkan tubuhnya sedikit pun, ia mengarahkan sinar tak kasat mata dari kedua matanya. Dalam sekejap, sinar laser itu melesat ke tubuh Zephyron, mengunci beberapa bagian vital secara presisi. Sendi-sendi logam menempel satu sama lain, menyatu rapat seperti dilas oleh kekuatan tak terlihat.

"SISTEM ERROR! SISTEM ERROR! PERGERAKAN TERKUNCI!"

Zephyron melirik layar internal, melihat tampilan digital yang menunjukkan kegagalan fungsi sistem gerak. Lengan dan kakinya tak merespons, sensor menyala merah, menandakan hilangnya kendali penuh.

"Sepertinya aku harus melepaskan penutup wajahmu terlebih dahulu," ucap Lynx sambil mengulurkan tangan, mencengkeram leher Zephyron tanpa kesulitan. "Mari kita lihat wajahmu secara langsung."

Dengan satu tarikan perlahan namun mantap, tangan Lynx menyelip ke bawah pelindung wajah lalu menariknya kuat. Suara logam berderit terdengar singkat sebelum helm itu terlepas sepenuhnya dan dibuang ke samping seperti rongsokan tak berguna.

Wajah di baliknya pun terlihat jelas. Seorang pria, usia sekitar empat puluhan, dengan rahang keras, mata tajam, dan sorot penuh tekad yang tak gentar meski tubuhnya terkunci.

"Begini lebih baik," bisik Lynx pelan, suaranya nyaris tak terdengar namun cukup untuk menusuk ke dalam.

Zephyron menatapnya lekat. Wajah pemuda itu menimbulkan sensasi aneh dalam ingatannya, seperti bayangan samar namun dia masih belum mampu mengingatnya.

Sebelum pertarungan, sistem pengenal dalam tubuhnya sudah bekerja, memindai wajah Lynx, mencari padanan di database nasional dan internasional. Hasilnya nihil. Hanya ada dua kemungkinan muncul di pikirannya saat itu. Entah pria ini memang tak pernah terdaftar sejak kecil, atau identitasnya berada di tingkat rahasia tertinggi yang hanya bisa diakses oleh lingkaran kekuasaan mutlak negara mereka.

Tiba-tiba suara Lynx memecah ketegangan, pelan namun penuh tekanan.

"Dengar. Ini peringatanku. Sampaikan pada pimpinanmu. Aku datang ke dimensi ini bukan untuk mencari musuh, tapi jika ada satu saja dari kalian yang menyakiti orang-orangku, maka aku akan datang kembali, dan saat itu tak akan ada yang bisa menahan aku."

Nada suaranya berubah sedikit lebih dingin, matanya menatap lurus ke dalam mata Zephyron.

"Aku lepaskan kalian kali ini. Aku akan kembali ke duniaku. Kuharap kalian cukup pintar untuk tidak mengulang kebodohan ini."

Zephyron tak menjawab. Ia hanya memandangi Lynx dengan campuran waspada dan bingung, mencoba memahami siapa sebenarnya pemuda yang berdiri di hadapannya dengan kekuatan mutlak namun tanpa kesombongan.

"Dimensi? Apa hubungan pria ini dengan Komandan Vex? Kenapa dia menghancurkan markas dan membawanya kesini? Aku mengira dia hanya musuh berbahaya, tapi... sepertinya ini jauh lebih rumit," pikir Zephyron dalam diam.

Lynx melepaskan cengkeramannya dan berbalik perlahan meninggalkan Zephyron yang tidak mampu bergerak.

"Leena, bagaimana kondisi Lala?" tanya Lynx saat tiba di dekat Leena.

"Dia masih tidak sadarkan diri. Aku sudah memeriksanya namun belum menemukan penyebabnya," jawab Leena dengan cemas.

Lynx memeriksa nadi dan tubuh Lala dengan mata langit. Dia menemukan nano partikel yang di suntikkan Arkha di kota Zhurong, masih menyatu dengan darah Lala. Lynx pernah mencoba melepaskan nano itu, namun Kael dan Lala melarang karena risiko ledakan yang dapat membahayakan Lala jika di keluarkan sembarangan sehingga dia terpaksa menunda. Kini, Lynx memperkirakan benda itu satu-satunya penyebab Lala belum sadar.

Kanaya dan Ratih berdiri kaku di balik dinding markas, tubuh mereka masih gemetar tak terkendali akibat menyaksikan pertarungan singkat namun brutal itu.

"Kanaya... kalau aku mati hari ini, semua salah kamu! Bukankah kamu yang membuat monster itu datang ke tempat ini!" bisik Ratih dengan suara bergetar, wajahnya pucat pasi, matanya tak lepas dari sosok Lynx yang menghentikan pukulan Zephyron hanya dengan satu tangan.

Zephyron bukan manusia biasa. Dengan pakaian robotnya, dia mungkin bukan yang terbaik dalam menghadapi metahuman dengan kemampuan aneh, tapi dalam hal kekuatan murni, tubuh baja dan sistem serangnya nyaris tak tertandingi. Namun pemuda itu... dia menghentikannya seperti sedang menahan ranting rapuh.

Kanaya tak menjawab. Mulutnya terkatup, pandangannya liar mencari jalan kabur. Dalam pikirannya, dia mempertimbangkan untuk menggunakan kekuatannya menyelinap ke salah satu lapisan es atau bersembunyi di salah satu sudut bangunan jika Lynx terlihat berniat kembali mencari mereka. Namun kata-kata Lynx bahwa dia sudah ditandai terngiang di benaknya."Jika aku kabur, kemungkinan aku bisa ditemukan olehnya dan di bunuh. Tetapi jika aku tetap disini, sudah pasti hanya kematian menungguku."

Tapi belum sempat dia bergerak, sosok Lynx di kejauhan mendadak lenyap dari pandangan mereka.

Ratih tersentak, matanya bergerak panik ke segala arah. Kanaya menggertakkan gigi, napasnya memburu. "Di mana dia? Ke mana perginya?"

"Kanaya."

Kanaya dan Ratih yang mendengar suara itu langsung membalikkan tubuh secepat kilat. Nafas Ratih tersendat. Kanaya menahan napas, matanya membelalak, jantungnya seolah berhenti berdetak. Suara Lynx mengagetkan mereka berdua.

"Lynx... Apa maumu? Bukankah Lala sudah kamu bebaskan?" kata Kanaya cepat.

"Katakan! Bagaimana cara melepaskan partikel nano yang ada di tubuh Lala?" tanya Lynx dengan nada tegas.

"Nano partikel? Bukankah kamu sudah melepaskannya saat di kota Zhurong? Aku melihatmu di Paviliun Bulan Perak melepaskannya, sehingga aku tidak bisa melacak dan mengendalikannya lagi," kata Kanaya dengan tatapan tajam, namun sebuah pemikiran muncul di benaknya, "mungkinkah Komandan Vex menyuntikkannya lagi," batinnya.

Saat di kota Zhurong, Kanaya selalu memantau pergerakan Lala yang sudah di tanamkan nano partikel di tubuhnya. Dia mencari kesempatan untuk menculik Lala, namun tanpa di duga, Lynx dilihatnya membuat sebuah formasi sehingga dia tidak bisa memasuki kamar Lala, dan juga terlihat Lynx menusuk tubuh Lala dengan jarum bersama Leena.

Kanaya memeriksa sensor dan tidak menemukan titik merah berkedip yang seharusnya muncul di layar, sehingga dia berpikir bahwa Lynx sudah mengeluarkan nano partikel tersebut dari tubuh Lala. Sejak itu, dia tidak pernah memeriksa sensor tubuh Lala lagi, dan saat kembali ke markas, Kanaya menyerahkan semua perangkat yang dibawanya ke komandan Vex.

"Aku tidak pernah melepaskannya! Jangan mencari alasan. Katakan caranya, atau aku akan membunuhmu," suara Lynx meninggi, penuh ancaman.

"Aku... Aku tidak serius... Itu sebabnya aku ingin meminta bantuanmu untuk melepaskan nano partikel yang juga tertanam di tubuhku," jawab Kanaya.

Ratih yang mendengarkan memandang Kanaya, "ternyata dia hanya boneka Komandan Vex. Tubuhnya sudah diberikan partikel nano." Batinnya.

Lynx menatap Kanaya dengan tajam, berusaha menangkap kejujuran di balik kata-katanya. Ia kemudian teringat, "sepertinya formasi pelindung yang kupasang di penginapan saat itu membuat Kanaya kehilangan kemampuan mengendalikan partikel nano di tubuh Lala. Itu sebabnya dia mengira aku sudah melepaskannya. Dia melihatku saat aku membuka titik meridian untuk memperbaiki kultivasi Lala."

"Kurasa aku harus kembali ke kota Zhurong terlebih dahulu dan mencoba mengobati disana." Batin Lynx. Dia merasa dapat ide cara untuk melepaskan nano partikel tersebut.

"Jika cara itu gagal, aku bisa kesini lagi mencari mereka." Tekad Lynx.

"Kanaya,aku akan mempercayaimu kali ini. Urusan kita selesai sampai di sini. Tapi kalau kau menyentuh satu saja dari teman-temanku lagi, aku tidak akan melepaskanmu."

"Pemuda ini... rajanya monster," batin Kanaya, menelan ludah dengan gemetar, seolah hawa di sekitar tubuh Lynx membekukan udara. "Kenapa dia berhenti bertanya? Apakah dia menemukan sesuatu cara untuk melepaskan partikel nano itu? "

Tanpa menunggu reaksi atau jawaban, Lynx menghilang dari tempat itu. Dalam sekejap, ia muncul kembali di sisi Leena yang masih menggendong Lala.

Lynx menatap tajam ke arah selatan dan merasakan pesawat meluncur cepat ke arah mereka.

"Ada apa Lynx?" Tanya Leena.

Lynx menggelengkan kepalanya."Bukan hal penting, ayo kita kembali."

Lynx segera membuat formasi dimensi untuk kembali ke kota Zhurong. Saat pola-pola kuno berpendar di udara, portal dimensi terbentuk dalam sekejap. Tanpa menunda waktu, Lynx melirik Leena dan Lala, lalu melangkah masuk. Leena menyusul sambil mengangkat tubuh Lala yang masih tak sadarkan diri, dan portal pun lenyap dalam pusaran cahaya tenang.

Ratih dan Kanaya hanya bisa menatap kepergian mereka. Nafas mereka terhela perlahan, seolah baru saja terbebas dari tekanan yang menyesakkan.

"Akhirnya monster itu pergi," gumam Ratih pelan, nyaris seperti bisikan.

Sementara itu, beberapa puluh kilometer dari lokasi bangunan, pesawat The Hunter meluncur cepat menembus langit. Mesin-mesinnya meraung, namun mereka terlambat. Waktu terbuang untuk mengambil perlengkapan persenjataan yang dirancang khusus menghadapi ancaman sekelas Lynx.

Tiba-tiba alat komunikasi di lengan Komandan Vex menyala, memancarkan cahaya biru.

"Dokter Zhang, bagaimana kondisi kalian?" tanya Komandan Vex dengan nada tegang.

"Aku ingin melaporkan bahwa mereka sudah pergi bersama Lala. Aku melihatnya lewat CCTV," jawab Dokter Zhang tenang.

Komandan Vex menghantam kursi yang didudukinya dengan kepalan tangan. Dentuman logam terdengar nyaring.

"Bagaimana penelitian kita? Data-data kita?" tanyanya cemas.

"Semua aman, Komandan. Penelitian kita tidak terganggu. Mereka tidak menyentuh apapun," jawab Dokter Zhang cepat.

"Baguslah! Kau lihat sendiri kemampuan pria itu? Kita harus mempercepat proyek prajurit super! Dan satu hal lagi... siapkan senjata nuklir. Aku akan menghancurkan dunia tempat mereka berasal," ujar Komandan Vex dengan sorot mata penuh bara.

